1.Mulai dari
pagi hari, anak dapat belajar bertanggung jawab dengan bangun pagi sendiri.
Jadikan Jam beker sebagai hadiah istimewa di hari ulang tahunnya, ini akan
membuat anak antusias untuk bangun pagi sendiri.
2.Atur jadwal
si kecil bersama-sama. Kalau biasanya orang tua yang mengatur jadwal anak, kini
ajak anak berdiskusi dan mengaturjadwalnya sendiri. Tugas orang tua hanya mengarahkan, agar anak tidak
menghabiskan waktunya hanya untuk bermain seharian.
3.“Ambil makan
sendiri, tapi harus dihabiskan yaa…!!” Dengan mengambil makan sendiri, anak
akan belajar untuk mengukur kebutuhannya, dan belajar bertanggung jawab
menghabiskan makanan yang sudah dia ambil. Orang tua harus konsisten dalam
menerapkan aturan ini, jangan sampai anak dibiarkan membuang sisa makanan yang
sudah dihabiskan. Tidak masalah jika sesekali anak masih terlalu banyak
mengambil makanannya dan membuatnya terlalu kenyang untuk menghabiskan makanan
tersebut. Namun orang tua harus terus memotivasi anak agar selanjutnya anak
dapat mengambil makanan sesuai kebutuhannya. Oya, dalam aturan ini, anak boleh
tambah makanan lagi jika terlalu sedikit mengambil makanannya sehingga masih
merasa lapar. Tentu saja dengan aturan yang sama, “yang penting dihabiskan!”.
4.Si kecil
mendapat hukuman di sekolah karena terlambat datang, tidak mengarjakan PR, atau
mendapat nilai merah saat ujian?? Anda tidak perlu ikut-ikutan memarahinya,
karena hal ini hanya akan membuat anak semakin BETE. Ajak anak berdiskusi,
tanyakan bagaimana rasanya saat dia di hukum, arahkan anak bahwa yang
dilakukannya itu merugikan dirinya sehingga anak tidak ingin hal itu terulang
lagi.
Uang saku ternyata bukan hanya
membuat anak merasa kenyang, namun juga membuat anak dapat belajar bertanggung
jawab. Melalui uang saku anak akan belajar mengukur kemampuan dengan
menyesuaikan antara uang yang ada dengan barang yang ingin dipenuhinya,
selanjutnya anak akan belajar mengatur prioritas, dan membeli sesuatu yang
memang benar-benar dibutuhkan saja, disinilah saat dimana anak dapat belajar
untuk bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, apa yang dimilikinya, dan apa
yang menjadi pilihannya. Hmm…ternyata banyak hal dapat dipelajari anak melalui
uang saku, lantas bagaimana caranya agar kita bisa memberikan uang saku dengan
tepat pada anak? Berikut beberapa tips yang bisa diikuti :
1.Atur periode pemberian uang saku dengan
konsisten (bisa perhari, perminggu, perduaminggu, atau perbulan). Sesuaikan
dengan usia anak, semakin besar anak akan semakin bagus jika periode pemberian
uang saku lebih panjang.
2.Uang saku yang diberikan akan lebih baik jika
mencakup semua kebutuhan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Kebanyakan
orang tua biasanya memberikan uang saku hanya untuk kebutuhan jajan anak di
sekolah, ketika anak sudah berada di rumah, atau sudah bertemu orang tuanya
anak dapat minta uang tambahan untuk membeli sesuatu yang dia inginkan.
Pemberian uang saku seperti ini memang sudah mengajarkan tanggung jawab pada
anak, namun tentunya tanggung jawabnya jauh lebih kecil dibandingkan anak yang
diberi tanggung jawab uang saku selama satu minggu penuh dan mencakup semua
kebutuhannya.
3.Jumlah uang saku harus cukup, jangan sampai
berlebih, karena hal ini membuat anak akan menggunakan uang tanpa berpikir
terlebih dahulu, namun jangan sampai kurang, karena ini akan membuat anak
merasa stress. Penentuan uang saku ini dapat dilakukan dengan menghitung
rata-rata pengeluaran anak setiap harinya dari mulai uang jajan saat di
sekolah, dirumah, sampai kebiasaan anak membeli barang-barang lainnya (alat
tulis sekolah, buku bacaan, ataupun mainan). Orang tua juga perlu cermat dalam
menghitung kebutuhan sehari-hari anak, jangan sampai anak menjadi terbiasa
membeli barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan, dan akhirnya menjadi
boros. Oleh karena itu, saat menghitung pengeluaran anak sehari-hari, orang tua
hendaknya mencoret beberapa pengeluaran yang kurang penting. Untuk anak yang
sudah lebih besar (usia 10 tahun keatas), penentuan jumlah uang saku juga dapat
dilakukan dengan mendiskusikannya dengan anak. Anak diminta untuk menentuan
berapa uang saku yang dibutuhkannya, tentunya dengan menyertakan alasan atau
rincian kebutuhannya. Sedangkan orang tua tetap bertugas untuk menilai hal-hal
apa saja yang memang menjadi kebutuhan anak.
4.Lantas bagaimana jika suatu saat anak ingin
membeli suatu barang yang harganya lebih dari uang saku anak? Jika memang
barang yang ingin dibeli bukan kebutuhan yang mendesak, maka inilah kesempatan
orang tua memotivasi anak untuk belajar berhemat dan menabung untuk mendapatkan
apa yang dia inginkan. Orang tua juga bisa memacu anak untuk belajar
berwirausaha sederhana untuk mendapatkan tambahan uang yang dia inginkan,
seperti berjualan es lilin/puding di depan rumah, atau beternak hewan.
Waah…menarik bukan?? Pembahasan lebih lanjut mengenai wirausaha ini akan kita
bahas lebih dalam pada edisi “Menanamkan Jiwa Enterpreneur pada Anak”. Selamat Mencoba ayah dan bunda....Salam Hangat Untuk Kapten Cilik di rumah!
Kapten Cilik adalah sebuah organisasi yang menyediakan berbagai program untuk mengembangkan karakter positif pada anak-anak melalui pelatihan lifeskill, seminar dan workshop untuk orang tua dan pendidik.