Ads 468x60px

Senin, 19 Maret 2012

Belajar Tanggung Jawab (3)

Sebagai orangtua, kami yakin bahwa ayah dan bunda selalu mengupayakan aturan yang terbaik untuk melatih kebiasaan – kebiasaan baik pada anak. Tapi pada kenyataannya terkadang ada saja anak yang berat untuk mematuhi aturan yang diberikan oleh orangtua.

Untuk kondisi seperti ini, ada dua hal penting yang bisa kita lakukan. Pertama, sebelum memberlakukan aturan, sebaiknya orangtua meminta persetujuan anak. Dengan kata lain, diperlukan kesepakatan yang perlu diarahkan orangtua agar disetujui oleh anak. Kedua, saat anak tidak mematuhi apa yang telah disepakati bersama, biarkan anak merasakan akibat dari perbuatannya yang melanggar aturan tersebut. Misalnya: Orangtua dan anak telah bersepakat bahwa anak akan menggosok gigi setiap sebelum tidur. Ketika anak tidak mau menggosok giginya meskipun telah diingatkan, beritahu kembali anak akibat yang akan ia dapatkan jika tidak mau menggosok gigi sebelum tidur (cth: sakit gigi). Saat hal ini terjadi secara berulang-ulang dan anak merasakan sakit gigi, biarkan terlebih dahulu hingga anak yang langsung memberitahu Anda bahwa giginya sakit. Dengan begini, anak dapat merasakan langsung akibat dari pelanggaran kesepakatan yang telah dibuat bersama-sama. Hal ini mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah ia sepakati. Selain itu, ia juga akan lebih meyakini bahwa kebiasaan yang diarahkan oleh orangtua tersebut adalah kebiasaan yang baik dan perlu diikuti.

Baca juga: belajar bertanggung jawab lewat hal sehari-hari (1) , uang saku sebagai media belajar bertanggung jawab (2)


Elsa Ridwan, S.Psi

Kapten Cilik: Lead the Little Hero!

Fb: Kapten Cilik
Twitter: @kaptencilik2011

Rabu, 14 Maret 2012

Minta Lagi, Minta Laagi...


Pernahkah Anda mengalami ini? Ketika bepergian anak seringkali merengek minta dibelikan mainan. Namun belum cukup tiga hari anak sudah merengek lagi minta dibelikan mainan baru yang serupa. Perihal, mainan yang baru dibelikan tiga hari sebelumnya sudah rusak atau bahkan hilang. Ya, beberapa diantara para ayah dan bunda mungkin ada yang mengalami hal ini. Tidak cuma mainan, bisa saja alat tulis, aksesoris, atau “perkakas-perkakas” anak lainnya.
            Kalau sudah begini biasanya para orangtua yang tidak tega mendengar anaknya menangis atau merengek segera membelikan pengganti barang-barang yang rusak atau hilang itu. Lalu, bagaimana kelanjutannya? Tidak kita pungkiri, terkadang barang-barang itu kembali rusak atau hilang. Nah lho...bagaimana ya cara mengatasinya?
            Ayah dan Bunda, memang benar terkadang sulit bagi kita untuk mengabaikan anak yang sedang menangis meminta sesuatu kepada kita. Beberapa diantara kita pun tidak jarang segera mengabulkan permintaan anak semata-mata karena malu jika orang lain mendengar tangisan anak. Padahal, ”tega” untuk menolak permintaan anak adalah salah satu poin penting untuk mengajarkannya tanggung jawab. Lebih baik lagi jika para orangtua membuat kesepakatan dulu dengan anak sebelum mengabulkan permintaannya. Misalnya, bersepakat bahwa anak akan merawat barang yang akan dibelikan orangtua. Atau bisa dengan kesepakatan untuk tidak membelikan yang baru jika anak tidak merawat barang yang dibelikan dengan baik. Tentu saja, untuk poin yang ini kita perlu mengapresiasi usaha anak untuk merawat barang yang sudah orangtua berikan tersebut. Jika barang tersebut hilang bukan karena kesalahan anak, suatu waktu orangtua bisa membelikannya lagi sebagai reward.
            Dengan upaya-upaya ini anak akan belajar bagaimana bertanggung jawab atas perbuatannya dan melatih anak untuk menghargai jerih payah orang lain hingga ia dewasa kelak. Insya Allah.
            Selamat mencoba!

Elsa Ridwan, S.Psi